Perang Tabuk dan Kaum Munafik


Tabuk saat itu bercuaca sangat panas. Pasukan Muslim tengah bersiap menghadapi perang besar, Perang Tabuk. Sebuah peperangan yang di pimpin Rasulullah untuk menghadapi bangsa Romawi. Perang ini dilakukan oleh Rasulullah pada masa-masa sulit bagi kaum muslimin saat itu, musim kemarau, sangat terik, matahari seakan mampu membakar kepala. Namun, pada saat itu pula buah-buahan mulai ranum sehingga menyebabkan orang-orang lebih suka pada tempat-tempat mereka berteduh, daripada ikut berperang bersama Rasulullah.

***

Kondisi yang sangat sulit tersebut menyebabkan kaum muslimin banyak yang meminta izin kepada Rasulullah untuk tidak ikut berperang dengan berbagai alasan. Salah satunya adalah Al-Jadd bin Qais dari Bani Salamah.

Suatu ketika saat kaum muslimin tengah bersiap-siap untuk pergi berperang, Rasulullah bersabda kepada Al-Jadd “Hai al-jadd apakah tahun ini engkau ikut memerangi orang-orang berkulit kuning (Romawi)? Al-Jadd berkata, “Wahai Rasulullah berilah aku izin dan engkau jangan menjerumuskanku ke dalam fitnah. Demi Allah, kaumku telah mengenaliku bahwa tidak ada orang laki-laki yang cepat tertarik kepada wanita daripada aku. Oleh karena itu, aku khawatir jika aku melihat wanita-wanita berkulit kuning, maka aku tidak sabar.” Rasulullah memalingkan muka dari al-jadd dan bersabda “aku mengizinkan”.

Dalam riwayat tersebut terlihat jelas sebuah alasan yang dibuat oleh orang munafik agar lepas dari beban untuk ikut serta dalam Perang Tabuk. Sehingga tentang al-Jadd ini turunlah firman Allah : “Di antara mereka ada orang yang berkata: "Berilah saya keizinan (tidak pergi berperang) dan janganlah kamu menjadikan saya terjerumus dalam fitnah". Ketahuilah bahwa mereka telah terjerumus ke dalam fitnah. Dan sesungguhnya Jahannam itu benar-benar meliputi orang-orang yang kafir. (Qs.At-Taubah:49).

Tidak sampai disitu saja, orang-orang munafik pun selain mencari-cari alasan untuk tidak ikut berperang, juga memprovokasi orang-orang mukmin lainnya untuk tidak ikut berperang. Memang seperti inilah watak dari golongan munafik, mereka bagai duri dalam daging.

Sedang kaum Muslimin datang kepada Rasulullah dari setiap pelosok. Dalam menghadapi peperangan ini, Rasulullah telah menghimbau orang-orang yang kaya agar menyumbangkan harta yang mereka miliki sehingga banyak diantara mereka yang menyerahkan harta. Utsman bin Affan menyerahkan hartanya sebanyak seribu dinar. Hingga Rasulullah bersabda “Ya Allah, ridhailah Utsman, karena aku ridha kepadanya”. Bahkan ada para sahabat yang sampai menangis lantaran mereka tidak dapat ikut berperang dengan Rasulullah. Dalam perjalanan dari rumah Rasulullah mereka berjumpa dengan Ibnu Yamin. Melihat mereka menangis lantas bertanyalah Ibnu Yamin "Kenapa engkau menangis?", mereka menjawab "Kami datang kepada Rasulullah untuk meminta beliau membiayai persiapan jihad kami, namun Rasulllah tidak memiliki apa-apa untuk membiayai kami, karena kami tidak mempunyai bekal untuk berangkat berperang.” Kemudian Ibnu Yamin memberikan 2 untanya dan kurma untuk mereka dan setelah itu mereka pun ikut serta bersama Rasulullah dalam peperangan.

Rasulullah keluar bersama sekitar 30 ribu pasukan kaum Muslimin. Dalam perjalanan kaum Muslimin mengalami kesulitan yang sangat berat. Imam Ahmad meriwayatkan bahwa dua atau tiga orang bergantian menaiki satu unta. Mereka juga kehabisan perbekalan air minum sehingga terpaksa memotong unta mereka untuk diambil perbekalan airnya. Sesampanya di Tabuk, dan menunggu kurang lebih 20 hari, pasukan Romawi tak kunjung datang. Akhirnya kesempatan itu dipergunakan Rasul untuk menghimpun kekuatan dan menjalankan misi dakwah kepada penduduk sekitar Tabuk. Dan mereka pun menyatakan keislamannya dan siap membantu perjuangan Islam.

***

Ada 3 orang sahabat yang dikenal baik keislamannya dan mereka bukan dikenal sebagai orang yang munafik. Salah satu dari mereka adalah Ka'ab bin Malik. Sejak islamnya, Ka'ab bin Malik tidak pernah ketinggalan sekali pun dalam setiap peperangan kecuali pada Perang Badar. Namun pada Perang Tabuk ini ia tidak ikut serta bersama yang lainnya untuk pergi berperang. Hal ini disebabkan lantaran Ka'ab bin Malik sedang dalam kondisi kaya raya dan juga didukung dengan keadaan dimana buah-buahan telah ranum dan tempat berteduh diminati banyak orang, sehingga ia menunda-nunda untuk melakukan persiapan untuk ikut dalam perang Tabuk. Hal itu terjadi terus menerus sampai-sampai pasukan telah siap untuk berangkat pergi berperang. Dalam kondisi itu Ka'ab bin Malik berkata pada dirinya "aku akan bersiap-siap besok atau lusa, kemudian aku akan menyusul mereka.”

Setelah kaum Muslimin berangkat, Ka'ab bin Malik keluar rumah untuk bersiap-siap dan bertekad akan menyusul rombongan kaum Muslimin. Namun tidak jadi dan menundanya pada keesokan harinya, pada hari berikutnya pun ia tunda lagi sampai berhari-hari. Kemudian ia sama sekali belum bersiap-siap hingga kaum muslimin telah berjalan jauh dan tidak terkejar lagi. Hingga pada akhirnya ia pun tidak jadi berangkat dan tetap berada di Madinah.

Pada suatu pagi Rasulullah beserta rombongan kaum muslimin telah pulang. Dan sudah menjadi kebiasaan Rasulullah setiap setelah pulang dari perjalanan beliau langsung menuju masjid dan shalat 2 rakaat lalu keluar duduk-duduk bersama penduduk lainnya. Pada saat itu orang-orang munafik pun berbondong-bondong mendatangi Rasulullah yang jumlahnya sekitar 80 orang, mereka bersumpah kepada beliau dan meminta udzur atas ketidakikutsertaan dalam Perang Tabuk.

Namun Ka'ab bin Malik tidak melakukan hal serupa. Ia datang kepada Rasulullah dan menceritakan dengan jujur perihal ketidakikutsertaannya dalam berperang. Setelah mendengar penjelasan Ka’ab, Rasulullah bersabda "Adapun orang ini (Ka'ab bin Malik) berkata benar. Berdirilah dan pulanglah hingga Allah memberi putusan tentang dirimu". Tidak lama setelah itu Rasulullah memberikan perintah kepada orang-orang untuk tidak berbicara dan menjauhi (boikot) Ka'ab bin Malik beserta 2 sahabat yang lainnya yang juga berperilaku sama sebagaimana Ka'ab.

Dalam kondisi diboikot tersebut Ka'ab bin Malik beserta 2 sahabat lainnya merasakan seakan-akan tidak mengenal lagi dengan dunia ini. Dalam pengasingan tersebut, 2 sahabat lainnya lebih memilih berdiam di rumah sampai keputusan Allah turun. Namun tidak dengan Ka'ab bin Malik, yang tetap keluar rumah, ke pasar, dan juga berjamaah ke masjid dan tidak seorang pun mau berbicara dengannya. Hal tersebut terus terjadi hingga hari ke-40, pada hari ke-40 seorang utusan Rasulullah datang kepada Ka'ab dan 2 sahabat lainnya menyampaikan kepada mereka untuk menjauhi istri-istri mereka. Hal itu berlangsung 10 hari, hingga pada pagi hari pada hari ke-50, Ka'ab keluar rumah untuk menunaikan shalat Shubuh dan setelah itu ia pergi ke gunung dan mendirikan tenda disana. Tiba-tiba seorang penyeru berteriak keras "Hai Ka'ab bin Malik bergembiralah!", seketika itu Ka'ab bersujud karena solusi telah tiba. Rasulullah mengumumkan diterimanya taubat Ka'ab bin Malik beserta 2 orang sahabat yang lain.

***

Perang Tabuk tidak jadi berlangsung. Namun Allah telah menjadikan Perang Tabuk sebagai cara untuk mengetahui dan menyeleksi siapa-siapa diantara kaum Muslimin yang benar-benar beriman dan siap menjalankan perintah Rasulullah sebagai pemimpinnya, dan siapa-siapa yang munafik, pura-pura beriman namun sejatinya mengingkari dan tak mau patuh dengan perintah Rasul-Nya.

Perang Tabuk memberi pelajaran, kemunafikan bisa terjadi karena banyak faktor. Karena faktor dunia, faktor tak taat kepada pemimpin (Rasulullah), dan faktor-faktor lainnya. Dan dengan bobot kemunafikan yang berbeda-beda. Antara 80 orang yang jelas-jelas berbohong dan mencari-cari alasan untuk tidak ikut berperang, dengan Ka’ab bin Malik dan dua sahabat lainnya. Jelas sangat berbeda.

Ka’ab dan dua sahabat lainnya diboikot, diasingkan dan tidak diajak berbicara atau komunikasi. Ka’ab dan dua sahabat lainnya, bersedih dan terus berusaha memperbaiki ibadah dan akhlaknya, bertaubat, sebab masih ada iman dalam dadanya. Sementara yang 80 orang, mereka senang dengan kemunafikannya. Karenanya dalam riwayat, mereka justru tidak dihukum oleh Rasulullah, dibiarkan dengan kemunafikannya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar