Heni Sri Sundari, Anak Muda Indonesia Paling Berpengaruh di Asia


Nama Heni Sri Sundari akan menghiasi majalah Forbes. Ia terpilih dan dinilai sebagai salah satu dari 30 anak muda yang paling berpengaruh di Asia. Bukan cerita singkat untuk bisa masuk dalam jajaran bergengsi itu. 

Heni masih ingat betul detail perjuangannya hingga akhirnya 'diakui' dan 'dilihat' oleh majalah dari Amerika Serikat itu. Kisahnya dimulai ketika ia berhasil menjadi sarjana beberapa tahun lalu. 

“Mak (ibu), Alhamdulilah Neng jadi sarjana. Hari ini Neng diwisuda. Terima kasih atas semua doanya,” ucap kepada ibunya lewat telpon. 

Sang ibu tak menjawab. Tak lama terdengar suara yang kebingungan dengan istilah yang diucapkan Heni.

“Sarjana itu apa Neng?” Ucap emaknya dalam bahasa Sunda.

Sarjana kata yang asing di telinga orang-orang di kampungnya. Padahal, Heni Sri Sundari mendapatkan gelar cum laude strata satu. Saat mengabarkan ia berhasil meraih gelar sarjana, Heni berusaha menjelaskan bahwa sarjana itu seperti insiyur dan guru. Hanya dengan penjelasan itu ibunya baru paham karena hanya kata Insinyur dan gurulah yang emak tahu. 

Emaknya memang buta aksara, tidak pernah bersekolah. Masa kecilnya dipenuhi ingatan tentang masa penjajahan Jepang dan Belanda yang setiap malam ceritakan kepada Heni sebagai dongeng pengantar tidur. Tiba-tiba terdengar isak tangis emak. Sebelum telponnya Heni tutup, Emak bertanya sambil menangis. 

“Neng kapan pulang? Emak sudah tua, nanti umur Emak “gak sampai”. Emak ingin melihat kamu menjadi guru di sini. Ajari anak-anak kampung biar pinter dan jadi sarjana seperti neng,” kata Emaknya.

Rupanya ucapan Heni ketika masih kecil diingat betul oleh ibunya. Dulu, Heni selalu mengatakan ingin menjadi sarjana, ingin menjadi guru yang tak perlu dibayar. Ia tak ingin para orang tua murid harus menjual beras atau hasil kebun demi membayar uang sekolah atau buku-buku mahal. 

Cita-cita itu tercapai. Kini, perempuan 28 tahun ini memiliki 1000 anak didik dalam program Petani Cerdas Anak. Program ini juga yang membawanya masuk jajaran masuk dalam daftar 30 anak muda yang paling berpengaruh di Asia versi majalah Forbes. Ia masuk bersama 16 anak muda Indonesia lainnya. Lulusan Saint Mary’s University, Hong Kong, ini juga memiliki belasan usaha sosial. 

Heni bercerita ketika dikabari masuk nominasi 30under30, ia dan suami sedang pergi umroh. Di tanah suci ia mendapat telpon. Karena sedang beribadah Heni tidak mengangkat telponnya. 

Setelah beberapa kali telpon sebuah pesan singkat pun masuk yang mengaku dari Forbes Indonesia. Heni pun menjawab ia sedang berada di luar negeri, karena itu tidak bisa memberikan wawancara. Namun Forbes Indonesia tetap memberikan nomor telpon Heni kepada Headquarter Forbes Asia di Hongkong.

Forbes Asia menghubungi Heni meminta waktu untuk wawancara. Heni tetap tidak bisa memenuhi permintaan wawancara. Ia ingin fokus beribadah. Namun beberapa saat kemudian ia mendapat email. Ia terpilih sebagai salah satu pengusaha sosial paling berpengaruh di Asia.

Heni ini tidak percaya. Ia meminta temannya untuk memastikan apakah yang menghubunginya benar-benar dari majalah Forbes. 

“Ini benar enggak sih, takutnya penipuan,” kata Heni sambil tertawa. 

Forbes meminta curriculum vitae dan foto. Hal tersebut juga tidak dipenuhi oleh Heni. Ia lalu mendapat email dari Headquarter Forbes yang menyatakan ia terpilih sebagai tiga puluh pengusaha muda dan 300 tokoh anak muda berpangaruh di Asia versi Forbes. 

Heni mengatakan ia memang beberapakali sempat diangkat di media massa. Tidak hanya di Indonesia, sejak berada di Hongkong sebagai TKI kisahnya juga pernah diangkat ke media massa. Menurutnya dari media massa-lah Forbes memilihnya sebagai salah satu anak muda yang paling berpengaruh. 

“Kriterianya sih enggak dijelasin cuma bilang selamat, Forbes telah menyeleksi ribuan anak muda di Asia,” katanya. 

sumber : republika.co.id

Tidak ada komentar:

Posting Komentar