Karakter Politik Fir'aun


Fir'aun, sebuah nama yang sangat kita kenal. Tidak ada nama yang lebih populer di dalam al-Qur'an melebihi dia, bahkan mengalahkan nama Nabi Muhammad sendiri. Fir’aun disebut sebanyak 74 kali, sedangkan nama Rasulullah Muhammad sendiri hanya 4 kali.

Kita semua tahu bahwa Fir’aun merupakan sosok politikus kejam, dhalim, dan otoriter, tapi mengapa al-Qur'an memopulerkan namanya sedemikian rupa sehingga semua orang yang membaca al-Qur'an pasti mengenalnya.

Tidak ada ayat yang tanpa tujuan karena semua yang ada dalam al-Qur'an merupakan petunjuk (al-huda), penjelasan-penjelasan (al-bayyinaat), nasihat (mau’idhah), pelajaran (al-ibrah), dan puncaknya sebagai cahaya dan pemisah anatara hak dan bathil (an-nur – al-furqan). Al-Qur'an seakan berkata bahwa Fir’aun sebagai gelar atau nama dari raja Mesir memang sudah mati ditenggelamkan di Laut Merah bersama pengikutnya, akan tetapi Fir’aun sebagai sosok dan karakter kekuasaan akan selalu lahir sepanjang sejarah, oleh karenanya al-Qur'an menyebutnya sampai 74 kali.

Fir'aun modern itu muncul di tengah-tengah masyarakat. Karena ingin melanggengkan kekuasaan, ia gunakan segala macam cara untuk memfitnah para lawannya atau mencari pendukung dari kalangan yang paling bodoh dari dirinya. Namun sedikit di antara kita yang mau menjadi Nabi Musa, memilih menghindar setelah berusaha meluruskan sang durjana Fir'aun daripada berjalan beriringan bersama Fir'aun modern itu, sekaligus juga memperjelas dimana level kita yang sesungguhnya.

Firman Allah:

“Sesungguhnya Fir’aun telah berbuat sewenang-wenang di muka bumi dan menjadikan penduduknya berpecah belah, dengan menindas segolongan dari mereka, menyembelih anak laki-laki mereka dan membiarkan hidup anak-anak perempuan mereka. Sesungguhnya Fir’aun termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan,” (QS. Al-Qashash: 4)

Selain menjelaskan sifatnya yang suka berbuat sewenang-wenang, ayat di atas menggambarkan kepada kita empat karakter politik Fir'aun dalam melanggengkan kekuasaannya.

Pertama, menjadikan rakyatnya terbelah dalam beberapa kelompok, di mana antara satu dengan lainnya sulit bersatu. 

Bahkan sengaja diciptakan konflik di antara mereka agar kelompok-kelompok tersebut menjadi lemah di hadapan kekuasaan Fir'aun. Dan akhirnya tunduk patuh dan mengikuti apapun yang menjadi kemauannya.

Kedua, melemahkan sebagian dan memperkuat sebagian yang lain sesuai dengan kepentingan politiknya. 

Inilah yang biasa dikenal dengan politik “devide et impera” yaitu politik memecah belah dan mengadu domba. Jika yang satu dijunjung, maka yang lainnya diinjak.

Cara seperti itu dimainkan secara silih berganti sesuai situasi dan kondisi. Bila menguntungkan kekuasaannya maka akan terus dijunjung dan dipuji. Bahkan tak jarang kasus yang melilit mereka di pengadilan pun dibebaskan begitu saja. Sebaliknya, ketika kelompok tersebut tidak menguntungkan kekuasaannya, maka akan dikriminalkan dengan beragam cara yang dimainkan oleh kaki tangan penguasa.

Ketiga, menyingkirkan siapa pun yang dapat mengancam kekuasaannya. 

Sang Fir'aun modern tidak segan-segan mengekang atau bahkan membunuh mereka yang memiliki karakter kelelakian; berpikir jernih, konsisten dan tegas dalam bersikap, kenegarawanan dalam politik, kepahlawanan dalam mempertahankan kebenaran dan keadilan.

Keempat, membiarkan orang-orang yang bermental munafik dan lemah dalam memegang prinsip.

Dengan demikian, tidak akan lahir sosok pemimpin harapan rakyat yang bisa menggantikan posisinya. Sekali lagi, semua keputusannnya tidak dilakukan secara spontan, tapi tetap dicarikan cara agar bisa membahasakan dirinya bertindak secara konstitusional.

Demikianlah potret politik Fir'aun dalam mempertahankan kekuasaannya. Sosok Firaun memang sudah tidak ada, tapi karakter politiknya masih terus diwarisi oleh sebagian politisi di setiap masa, Fir'aun modern. Apapun dilakukan demi mempertahankan kekuasaan. Tak peduli lagi mana yang halal dan mana yang haram. Politik kotor seperti menyebar berita hoax biasa dimainkan. Mengkriminalisasi lawan politik, memecah belah umat dan menebar teror untuk menjatuhkan musuh-musuh politiknya.

Karena itu, tidak berlebihan kiranya bila ada penguasa hari ini yang nyaman dengan politik-politik kotor tersebut dijuluki dengan “penguasa Fir'aun” layaknya Rasulullah menjuluki Abu Jahal dengan Fir'aunnya umat ini.

Prijanto Rabbani
Director Centre for Strategic and Policy Studies
Founder Prijanto Rabbani Institute

IG : @PrijantoRabbani

Tidak ada komentar:

Posting Komentar