Iman Tak Dapat Diwariskan



Iman tak dapat diwarisi,
Dari seorang ayah yang bertakwa,
Ia tak dapat dijual beli,
Ia tiada di tepian pantai.

_____________________

Begitulah penggalan lirik dari group nasyid terkemuka, Raihan. 


Kisah Nabi Nuh dan anaknya dapat menjadi contoh kebenaran lirik nasyid diatas. Nabi Nuh tentu sudah tidak diragukan lagi keimanannya. Beliau berdakwah 950 tahun lamanya. Tetapi, dengan ketinggian keimanan yang dimilikinya, Allah menguji beliau dengan anaknya yang tak sama kondisi keimanannya.

Nabi Nuh mengatakan kepada anaknya, "Hai anakku, naiklah ke kapal bersama kami dan janganlah kamu berada bersama orang-orang yang kafir." (QS. Hud : 42).

Anak Nabi Nuh menjawab, "Aku akan mencari perlindungan ke gunung saja yang dapat melindungiku dari air bah." (QS. Hud : 43).

Nabi Nuh berkata, "Tidak ada yang dapat melindungimu hari ini dari azab Allah, selain yang Allah rahmati.” (QS. Hud : 44). 

Nuh pun berdoa lagi pada Allah karena kasihan pada anaknya, “Ya Tuhanku, sesungguhnya anakku termasuk keluargaku, dan sesungguhnya janji-Mu itulah yang benar dan Engkau adalah Hakim yang seadil-adilnya.” (QS. Hud : 45).

Allah tidak suka dengan perkataan Nuh tersebut dan berfirman, “Wahai Nuh, sesungguhnya dia bukanlah termasuk keluargamu (yang dijanjikan akan diselamatkan), sesungguhnya dia telah berbuat yang tidak baik. Sebab itu janganlah kamu memohon kepada-Ku sesuatu yang kamu tidak mengetahui hakekatnya. Sesungguhnya Aku memperingatkan padamu supaya kamu jangan termasuk orang-orang yang tidak berpengetahuan.” (QS. Hud : 46).



***


Kita, tidak bisa menjudge bahwa seseorang yang memiliki keimanan tinggi akan menghasilkan anak dan keturunan dengan keimanan yang tinggi pula. Seorang ustadz dan kyai belum tentu akan memiliki anak yang sifatnya sholeh juga.

Karena, kita hanyalah manusia yang tidak bisa memaksakan hidayah kepada orang semau kita. Sekalipun pada anak atau saudara sendiri. Meskipun sudah menyekolahkan anak ke sekolah Islam, memasukkannya ke Taman Pendidikan Al Quran, kalau hidayah Allah belum sampai maka kita harus berlapang dada menerima takdir Allah tersebut. 

Karena hidayah itu hanya Allah yang bisa menentukan. Dia lah yang membolak-balikkan hati manusia.

“Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka dialah yang mendapat petunjuk; dan barangsiapa yang disesatkan Allah, maka merekalah orang-orang yang merugi.” (QS. Al A’raf : 178).



***


Kita, sebagai manusia tidak bisa memaksakan keluarga untuk langsung beriman seluruhnya, apalagi memaksakan pada seluruh umat manusia. Karena hal itu adalah hak dan ketentuan Allah. 

Seperti yang difirmankan, “Dan jikalau Tuhanmu menghendaki, tentulah beriman semua orang yang di muka bumi seluruhnya.” (QS. Yunus : 99).

Kita, tidak berhak menjudge mereka yang ternyata memiliki orang tua yang sholeh, tetapi ternyata diri mereka tidak sholeh dengan tudingan miring. Namun, bukan berarti kita membiarkan mereka tatkala melakukan maksiat atau ketidaktaatan pada Allah di depan mata kita. 

Kita, tetap harus menasehati semampunya dan dengan cara yang sebaik mungkin. Ketika dia tidak mau mendengarkan, maka kita serahkan semuanya pada Allah. 



***


Pun keimanan yang tidak bisa diwariskan ini, tidak lantas menjadi pemakluman bagi kita untuk tidak mengajarkan syariat Islam kepada keluarga. Dan bahkan membiarkan mereka hidup semaunya tanpa memasukkan nilai-nilai Islam. 

Kita, tetap harus mengkondisikan keluarga agar taat pada aturan Allah. Dan tidak lupa untuk selalu berdoa agar diri kita, keluarga dan anak-anak kita hidup penuh dengan berkah dalam naungan keridhoan Allah. 

Hanya kepada Allah-lah kita bergantung dan memohon. 



Tidak ada komentar:

Posting Komentar