Mekarsari ala Bojonegoro


Bupati Bojonegoro Suyoto menyulap daerah banjir di tepi Bengawan Solo jadi agropolitan. Seperti apa kiat Kang Yoto?

Daerah rawan banjir tersebut terletak di Desa Ngringinrejo di Kecamatan Kalitidu, Bojonegoro. Kini daerah rawan banjir itu dikenal sebagai agropolitan, sebuah wilayah pertanian yang subur lengkap dengan ribuan pohon belimbing yang berbuah lebat dan jadi penghidupan warga.

"Selain Sepeda Petani Belimbing dan PK 5 Desa Ngringinrejo Dilarang Masuk. Tiket Masuk Rp 1.000. Buka pukul 07.00-17.00" begitu tertulis di pintu gerbang masuk kebun belimbing ini. Pintu gerbangnya pun sangat sederhana, hanya gapura bambu, tak seperti layaknya agrowisata yang populer di kota besar di Indonesia. Namun kebun seluas 21,5 hektar ini tak pernah sepi dari pengunjung, setiap tahun ada lebih dari 100 ribu pengunjung yang datang. Kegiatan ekonomi warga pun bergerak luar biasa.

Jaraknya tak jauh dari pusat kota Bojonegoro, ditempuh dengan mobil mungkin sekitar 15 menit. Kebetulan Kang Yoto bersama istri juga tengah mengecek realisasi dana beasiswa untuk siswa SMA di Bojonegoro yang totalnya mencapai Rp 98 miliar. Setelah Kang Yoto memeriksa jumlah siswa yang mendapatkan beasiswa di daerah tersebut, Kang Yoto langsung mengajak kami berjalan-jalan menyusuri jalan berpaving yang menembus rimbunnya pepohonan belimbing.

Baru sampai pintu gerbang Kang Yoto sudah memetik belimbing yang berwarna oranye, dia langsung melahap belimbing. "Segar, ayo ambil, Mas," tawar Kang Yoto sembari menikmati belimbing yang dipetiknya. Belimbing yang menggantung di pohon itu sudah diplastiki untuk memudahkan pengunjung memetik, sekaligus untuk memanen. 

"Dulu mereka sudah ada tapi sendiri-sendiri. Sekarang semua kita satukan, kita bangunkan akses jalannya. Kita bangunkan infrastruktur yang menunjang. Ya sekarang jadi ramai begini," kata Kang Yoto sembari tersenyum.

Puluhan kios warga tertata rapi di kanan-kiri jalan akses yang berukuran lebar sekitar 2 meter ini, lengkap dengan belimbing segar yang mereka gantungkan di etalase cantelan bambu mereka. Jalan akses ini tertutup paving sangat rapi. Paving dipilih karena tahan terhadap segala cuaca, termasuk banjir yang hampir tiap tahun datang. 

Pohon di kebun ini sangat rindang sehingga jalan akses nyaris tak tembus cahaya matahari sehingga benar-benar terasa sejuk. Belimbing yang menggantung di setiap pohon membuat suasana semakin adem. Kemeriahan pedagang yang tak henti melayani pengunjung  di lokasi agrowisata bak 'Mekarsari' ala Bojonegoro ini menjadi bukti perekonomian warga di daerah rawan banjir itu bergeliat luar biasa.

Tentu saja semua capaian itu tidaklah instan. Ada tangan dingin Kang Yoto di balik metamorfosa daerah lawan banjir jadi agropolitan yang suasananya begitu hidup seperti saat ini.

Kebun Belimbing yang kini luasnya mencapai 21,5 hektar dengan rata-rata per hektarnya 200 pohon ini mulai dibudidayakan tahun 1985 oleh warga lokal seperti Sunyoto, Zaenuri, Dul Ghoni, Sarimin, dan lainnya dipandu oleh Moch Husni. Pada tahun 1990 sebenarnya mereka mengalami masa kejayaan, namun hanya dipetik dan dijual di pasar, sehingga hasilnya tidak optimal. 

Wajah baru kebun Belimbing di Desa Ngeringinrejo ini dimulai pada tahun 2010. Kang Yoto yang menjabat Bupati Bojonegoro melakukan intervensi dengan membentuk agropolitan berbasis kerakyatan dengan sektor pertanian belimbing yang saat itu nyaris terhenti. Agropolitan yang digalakkan oleh Kang Yoto kembali menggeliatkan perekonomian petani dan warga sekitar. Pada tahun 2015, dalam satu hari transaksi di lokasi ini menyentuh Rp 100 juta.

"Ini daerah langganan banjir, ternyata sekarang dikelola jadi destinasi wisata. Setahun lebih dari 100 ribu wisatawan, apa nggak matoh (mantap-red)," kata Kang Yoto sembari tertawa. 

"Ini perkebunan warga, kita fasilitasi jalannya, ini kita yang membangun," imbuh Kang Yoto sembari menunjuk beberapa rumah yang difungsikan sebagai toko. Sementara warga banyak menjual di kios masing-masing yang tertata setiap beberapa meter. Mereka menyebut seperti rest area, selain menjual belimbing, beberapa kios juga menyediakan makanan lain, mereka bahkan menyediakan wifi gratis.

Belimbing yang dibudidayakan di kawasan ini jenis blanthong, bangkok merah dan jenis lokal Bojonegoro yakni jenis siwalan yang merupakan jenis lokal Bojonegoro saat ini nyaris punah. Harga belimbing untuk kualiatas standar Rp 5.000 per kilogram, super Rp 12.000 dan untuk yang sedang Rp 8.000-9.000 per kilogram.

Pengunjung dapat langsung menikmati belimbing yang dipetik sendiri, tapi bisa juga membeli di pedagang yang sudah menjajakan di kiosnya masing-masing. Biasanya belimbing ditimbang sebelum dikonsumsi oleh pengunjung. Tertarik berwisata alam sekaligus memetik belimbing segar di Bojonegoro?  

sumber : detik.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar