Kampoeng Cyber ala Jogja


Seiring berkembangnya perkembangan zaman, teknologi informasi (TI) merupakan sebuah kebutuhan untuk mengembangkan berbagai hal, seperti ilmu pengetahuan, bisnis, komunikasi, dan pencitraan suatu perusahaan. 

Di Yogyakarta, pengenalan TI di tengah masyarakat terus digalakkan, khususnya pengenalan internet. Antonius Sasangko, warga asli Yogyakarta berusia 35 tahun memiliki peran cukup besar dalam menjadikan masyarakat Yogyakarta melek internet.

Dialah yang mendirikan Kampung Cyber yang berlokasi di RT 36 RW 09, Kelurahan Patehan, Kecamatan Kraton, Yogyakarta. Kampung ini resmi menjadi Kampung Cyber pada Agustus 2008.

Koko sapaan akrabnya memang sudah tinggal di kampung itu sejak kecil. Mayoritas warga kampung ini berprofesi sebagai seniman, seperti pembuat batik, pelukis, perajin, hingga musisi. Namun, karena kendala pemasaran, produksi seni yang dihasilkan kurang dikenal.

Melihat hal tersebut, Koko terdorong untuk ikut memasarkan hasil karya mereka agar dikenal masyarakat luas. Berangkat dari situ, Koko pun memilih internet sebagai sarana promosi.

Saat itu, warga kampungnya merupakan pekerja seni skala kecil yang tidak tahu bagaimana mengoperasikan komputer. "Bahkan ada yang tidak tahu bagaimana bentuk komputer itu, bisa dibayangkan apalagi mengetahui manfaat internet," katanya.

Niat baik Koko tidak langsung diterima semua warga. Saat Koko memasang jaringan internet, hanya ada tujuh rumah tangga yang mau terlibat. Berbekal dana patungan sebesar Rp 150.000 per rumah, Koko pun memasang jaringan internet Speedy dari Telkom.

Pelan-pelan, masyarakat RT 36 pun bisa menerima gagasan Koko. Jumlah warga yang mau memasang jaringan internet di rumah terus bertambah hingga menjadi 25 orang.

Hingga saat ini, seluruh warga RT 36 yang berjumlah 44 kepala keluarga sudah memiliki komputer dan jaringan internet di rumah masing-masing.

Koko juga memberi pelatihan bagi warga yang masih buta dalam penguasaan komputer dan internet. Pelatihan ini melibatkan mahasiswa dari Universitas Atma Jaya Yogyakarta. Pelatihannya ada delapan sesi yang meliputi pengenalan komputer, koneksi internet, browsing, email, blog, dan messenger.

Manfaat yang dirasakan warga kian nyata. Mereka kini berhasil menjangkau pasar yang lebih luas. Produk yang dipasarkan di dunia maya ini mencakup batik, lukisan, makanan tradisional, tanaman hias, jasa percetakan, penyediaan sound system, jasa pemandu wisata, hingga pijat bayi. "Bahkan ada yang bisa merambah luar negeri," ujarnya. 

Sumber : kontan


Tidak ada komentar:

Posting Komentar