Menggali Sejarah Melayu di Pulau Penyengat, Kepri


Awalnya, kata “penyengat” muncul dari para pelaut yang kebetulan singgah di pulau ini untuk mengisi persediaan air di kapalnya. Dan dengan tiba-tiba mereka diserang oleh kawanan binatang mirip lebah yang mereka sebut sebagai binatang penyengat. 

Selanjutnya dengan berjalannya waktu pulau kecil yang berada di muara Sungai Riau atau tepatnya berada kurang lebih 10 menit dari Kota Tanjung Pinang ibukota Provinsi Kepulauan Riau tersebut dikenal oleh masyarakat luas dengan nama Pulau Penyengat.

Apalagi saat Sultan Riau memindahkan pusat pemerintahan ke Pulau Penyengat sekitar Th 1900 M, maka semakin tersohorlah pulau kecil yang hanya memiliki luas 240 ha tersebut.
Beberapa peninggalan sejarah, budaya dan religi yang bisa kunjungi di pulau ini, seperti:
Mesjid Pulau Penyengat


Ketika kapal merapat ke dermaga, perhatian para pengunjung akan langsung tertuju pada bangunan mesjid yang keseluruhan bangunannya berwarna kuning terang dan menyolok.

Walau terkesan tidak lazim untuk bangunan mesjid yang umumnya berwarna putih. Warna kuning sendiri memiliki arti yang sangat dalam bagi Kesultanan Riau yakni lambang kebangsawanan, kejayaan dan kemasyuran.


Keistimewaan lain dari Mesjid Penyengat adalah memiliki empat pilar yang berfungsi sebagai pengeras saat datang waktu sholat.

Cerita lain yang membuat mesjid ini menarik untuk dikunjungi tentunya selain memang merupakan salah satu mesjid peninggalan Kesultanan Riau yang tersisa, konon saat proses pemugaran mesjid, putih telur digunakan sebagai perekat dalam konstruksi bangunannya.
Komplek Makam Raja 

Tempat dimakamkannya raja-raja yang pernah memerintah tanah melayu kepulauan, termasuk didalamnya makam Raja Ali Haji yang merupakan seorang penyair besar di mana salah satunya karyanya adalah Gurindam-12 dan juga seorang Pahlawan Nasional.

Tidak jauh beda dengan Mesjid Penyengat yang didominasi warna kuning, demikian juga dengan komplek makam bahkan semua batu nisan yang ada dibalut dengan kain dengan warna yang sama.
Rumah Adat Riau 

Atau disebut dengan Balai Adat Indra Perkasa merupakan rumah adat tradisional melayu kepulauan. Yakni semacam rumah panggung dengan ruangan yang cukup luas untuk menyambut tamu atau mengadakan perjamuan bagi orang-orang penting.

Lokasinya berada persis di pesisir pantai, menghadap langsung ke arah laut dimana terdapat dermaga yang segaris lurus dengan pintu rumah adat.
Benteng Bukit Kursi 

Dibangun sekitar tahun 1782 hingga 1784 M reruntuhan Benteng Bukit Kursi, yang merupakan peninggalan masa kejayaan Kerajaan Melayu tersebut menyimpan sejarah yang masih harus digali.

Bentuk Benteng Kursi yang menyerupai parit-parit sungguh tidak lazim seperti umumnya bangunan benteng yang ada dimasanya.

Sedangkan jumlah meriam keseluruhan yang mempersenjatai Benteng Kursi mencapai 90 unit yang didatangkan langsung dari Eropa, walau saat ini jumlah tersebut telah jauh berkurang, karena berbagai alasan yang krusial di setiap jaman.

Pulau Penyengat bisa dicapai dari Dermaga Panjang dan Pelabuhan Sri Bintan Pura, Kota Tanjung Pinang, dengan menggunakan kapal klotok (jukung) yang biasa digunakan oleh penduduk setempat sebagai alat transportasinya.

Sedangkan untuk mengelilingi Pulau Penyengat pengunjung bisa menyewa becak motor. Satu becak bisa diisi 2 atau 3 orang dan sang pengendara becak motor akan dengan suka hati memberi petunjuk layaknya pemandu wisata pribadi bagi anda.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar