Ambisi Indonesia Memproduksi Pesawat Jet Tempur KFX/IFX


WARISAN Presiden SBY untuk presiden baru RI 2014 adalah kebangkitan industri pertahanan, yang berprospek bagus dan perlu terus didukung. Khususnya, proyek pesawat jet tempur siluman KFX/IFX, buatan bersama Indonesia-Korea Selatan, yang sekelas lebih unggul dari pesawat tempur F-16 Amerika. 

Orang boleh bilang apa saja tentang kinerja Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) selama hampir 10 tahun masa pemerintahannya. Tetapi, yang tak terduga dan tak banyak dibahas para pengamat politik, SBY tampaknya akan mewariskan industri pertahanan nasional yang mulai bangkit lagi. Industri pertahanan ini awalnya sudah dirintis, sebagai bagian dari industri strategis, oleh Menteri Negara Riset dan Teknologi BJ Habibie di bawah pemerintahan Presiden Soeharto.

Pada upacara Hari Ulang Tahun ke-68 TNI, 5 Oktober 2013, SBY menjanjikan, kekuatan alat utama sistem persenjataan (alutsista) RI akan meningkat signifikan dalam waktu dekat hingga akhir 2014. Untuk memodernisasi alutsista sekaligus meningkatkan kualitas sistem pertahanan, Indonesia telah menjalin kerjasama dengan industri pertahanan di dalam dan luar negeri.

Ucapan SBY itu bukan sekadar basa-basi. Anggaran modernisasi dan perawatan alutsista TNI sampai akhir 2014 tercatat Rp 99 triliun, dan Kementerian Pertahanan masih membutuhkan tambahan anggaran Rp 57 triliun. Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro menyatakan, untuk keperluan TNI, saat ini pihaknya memprioritaskan pencarian alutsista bergerak, seperti pesawat tempur dan tank, dan alutsista tak bergerak seperti radar.

Pemerintah Indonesia menargetkan tercapainya kemandirian senjata untuk kebutuhan TNI pada tahun 2029. Meski target ini dianggap sangat berat dicapai, target itu sudah dirumuskan dalam UU Industri Pertahanan yang disahkan pada 2012. UU itu mewajibkan penghentian penggunaan produk impor jika industri domestik sudah mampu memenuhi. 

Belajar dari pengalaman pahit, menjadi korban embargo militer Amerika pasca referendum Timor Timur 1999, salah satu kebijakan penting Indonesia adalah berusaha mandiri dalam penyediaan alutsista. Untuk itu, industri pertahanan dalam negeri didukung penuh, untuk memproduksi senjata sendiri atau lewat kerjasama transfer teknologi pertahanan dengan negara-negara lain. UU Industri Pertahanan itu mengamanatkan, offset industri pertahanan RI adalah 35 persen. Offsetadalah istilah yang dipakai untuk menyebut tingkat pencapaian alih teknologi dari luar ke dalam BUMN strategis, yang saat ini diklaim sudah mencapai 35 persen, bahkan lebih. 

Geliat industri pertahanan RI memang sudah tak bisa disangkal lagi. PT. Pindad di Bandung, Jawa Barat, misalnya, sudah berhasil memproduksi panser Anoa 6X6 yang kini sudah aktif digunakan di jajaran TNI-AD. Kendaraan lapis baja pengangkut pasukan, yang dikembangkan sejak 2008, ini malah sudah dibeli sejumlah negara lain, seperti Malaysia, Brunei, dan Timor Leste, karena kualitasnya memang terbukti. Anoa ini bentuknya mirip panser VAB, tapi spesifikasinya lebih unggul dari panser buatan Perancis itu, yang juga dimiliki TNI-AD.

Pindad akan menambah koleksi produksi panser, dengan mengembangkan panser jenis Anoa Amphibious, yang ditargetkan dapat diluncurkan pada 2015. Pengembangan Anoa jenis amfibi ini dilakukan dengan penambahan spesifikasi, sehingga mampu menyeberang sungai, danau, dan bergerak dinamis menghadapi gelombang laut. Uji dinamis akan dilakukan pada 2014, sehingga pada 2015 sudah bisa diserahkan ke TNI. Dalam pengembangan ini, Pindad bekerjasama dengan Korea Selatan dan Italia.

Tank Tempur dan Kapal Selam

Indonesia juga sudah mengikat nota kesepahaman dengan Turki, pada Mei 2013, untuk bekerjasama memproduksi tank tempur. Kedua pihak saat ini lebih dulu mendesain satu prototipe tank. “Setelah desain tank selesai dibuat, akan diproduksi massal dan digunakan bagi militer kedua negara,” ujar Dubes Turki untuk RI, Zekeriya Akcam. Desain tank ini akan diumumkan ke publik internasional, setelah kedua negara selesai menggelar pemilihan presiden pada Juli 2014.

Di pihak Indonesia, proyek tank melibatkan PT Pindad dan PT LEN Industri. PT LEN merupakan mitra perusahaan Aselsan asal Turki, yang sudah berpengalaman memproduksi peralatan komunikasi militer taktis dan sistem pertahanan elektronik untuk militer Turki. Sedangkan di pihak Turki, proyek tank ini ditangani kontraktor pertahanan FNSS Defense System, yang kerap memproduksi roda kendaraan tempur lapis baja dan senjata untuk militer Turki dan sekutunya. 

Penguasaan teknologi FNSS lebih maju dari PT Pindad, sehingga ini menjadi peluang bagi Indonesia untuk menerima transfer teknologi. Saat ini Turki sudah mampu membuat tank tempur utama bernama Altay, berbobot 65 ton, yang dipersenjatai meriam kaliber 120 mm dan senapan mesin kaliber 12,67 mm. PT Pindad juga akan bekerjasama dengan Belarusia untuk mengembangkan tank. Kerjasama industri pertahanan adalah salah satu poin dalam nota kesepahaman RI-Belarusia, yang ditandatangani di Jakarta, Maret 2013.

Selain bekerjasama dengan negara lain, PT Pindad juga siap meluncurkan tank tipe medium asli buatan Indonesia yang pertama ke publik. Tank yang prototipenya dinamai SBS ini sedang masuk ke fase pematangan model prototipe atau purwarupa di pusat penelitian dan pengembangan. Tank ini merupakan loncatan dari pengembangan panser Anoa dan kendaraan taktis Komodo. Ketika prototipe tank ini nanti tuntas, akan dilanjutkan ke proses sertifikasi di Kementerian Pertahanan. Tank ini kira-kira sekelas dengan Marder, tank medium yang belum lama ini dibeli Indonesia dari Jerman.

Itu adalah perkembangan industri pertahanan matra darat. Dalam matra laut, industri pertahanan Indonesia akan belajar membuat kapal selam, sebagai bagian dari paket pembelian tiga kapal selam kelas Changbogo dari Korea Selatan. Pada 20 Desember 2011, Kementerian Pertahanan RI telah menandatangani kontrak dengan Daewoo Shipbuilding Marine Engineering (DSME) untuk pengadaan tiga kapal selam senilai 1,07 miliar dollar AS. 

Dua kapal selam akan dibangun di Korea dalam kerjasama dengan industri strategis PT. PAL, sedangkan kapal selam ketiga akan dibuat di fasilitas PT. PAL di Surabaya. Penyerahan kapal selam akan dilakukan pada 2015 dan 2016. Sesuai Rencana Strategis Pertahanan 2024, Indonesia masih butuh pengadaan 10 sampai 14 kapal selam, sebagai kekuatan esensial minimum.

Indonesia, melalui PT Lundin Industry Invest, perusahaan pembuat kapal perang asal Banyuwangi, Jawa Timur, juga sudah mampu membuat kapal cepat rudal berlambung tiga (trimaran). Kapal sepanjang 63 meter yang dibangun dengan biaya Rp 114 miliar ini menggunakan teknologi mutakhir berbahan komposit karbon, sehingga lebih sulit dideteksi oleh radar kapal musuh. 

Teknologi komposit karbon ini merupakan yang pertama di Asia. Kelebihannya, kapal lebih ringan dan irit bahan bakar, sehingga bisa melesat dengan kecepatan hingga 30 knot. Perusahaan itu memulai pembuatan KRI Klewang pada 2007 dengan melakukan riset ke sejumlah negara. Pembuatannya baru dilakukan pada 2009. KRI Klewang akan dipersenjatai peluru kendali asal China C-705, yang akan diproduksi di Indonesia dengan jarak tembak hingga 120 kilometer.

Saat ini hanya ada beberapa negara yang mampu membuat kapal dengan tiga lambung seperti itu, termasuk Amerika Serikat dan Jerman. Karena itu, jumlah kapal trimaran juga masih sedikit di dunia, apalagi yang digunakan untuk kapal militer. Kapal trimaran ini menjadi arah pengembangan industri pertahanan Indonesia ke depan, dan Indonesia sudah mampu membuatnya.

Indonesia juga telah membuat berbagai jenis kapal perang, yang sistem persenjataannya dibeli dari negara asing. Indonesia mampu memasang rudal Yakhont buatan Rusia maupun C-802 buatan Cina di berbagai kapal perang TNI-AL. Kini Indonesia mulai membuat Sistem Manajemen Tempur (CMS, Combat Management System) untuk kapal-kapal perang buatan dalam negeri. Indonesia bisa terus bergerak untuk mendapatkan lompatan teknologi, bukan sekedar membelinya dari negara asing. 

Proyek Jet Tempur Indonesia-Korsel




Proyek prestisius jangka panjang yang sedang digarap sekarang adalah pembuatan pesawat jet tempur KFX/IFX (Korea Fighter Xperiment/Indonesia Fighter Xperiment), bekerjasama dengan KAI (Korea Aerospace Industries), Korea Selatan. Dimulai pada 2011, proyek ini ditargetkan selesai pada 2020. PT Dirgantara Indonesia (PTDI), yang sudah berpengalaman membuat pesawat angkut taktis serbaguna CN-212, CN-235, CN-295, serta prototipe N-250, kini pertama kalinya membuat pesawat jet tempur. 

Menurut Direktur Utama PTDI Budi Santoso, jet tempur KFX/IFX ini nantinya akan lebih canggih dari F-16 Fighting Falcon buatan Amerika Serikat, yang saat ini sudah digunakan oleh TNI-AU. “Kalau F-16 itu generasi keempat, F-35 generasi kelima, KFX/IFX di tengah-tengahnya. Sukhoi (Su-27 dan Su-30) buatan Rusia masih generasi keempat,” ujarnya. F-35 Lightning II dan F-22 Raptor, yang dibuat oleh Lockheed Martin, adalah dua pesawat tempur tercanggih yang dimiliki AS saat ini.

Sebelumnya, tim 40 orang dari Indonesia yang terdiri dari Balitbang Kementerian Pertahanan, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), PTDI, dan Institut Teknologi Bandung (ITB) telah terbang ke Korea Selatan untuk perencanaan KFX/IFX tahap pertama. Program ini berlangsung selama 18 bulan dan berakhir pada Desember 2012. 

Proyek KFX/IFX kini memasuki tahap kedua, yakni pengembangan pesawat atau engineering manufacturing development. Mulai dari rincian desain, persiapan produksi, pengerjaan 6 sampai 8 prototyping, pengujian, dan sertifikasi, itu semua butuh waktu 8 tahun. PTDI menyiapkan 30 item dari 72 teknologi dalam pesawat tempur itu. Setelah proses ini, barulah akan dilanjutkan ke produksi dan pemeliharaan.

Saat ini telah dihasilkan dua konsep jet tempur KFX/IFX, yang merupakan pesawat generasi 4.5, yakni sekelas di atas jet tempur F-16, namun masih di bawah F-35. Perannya adalah sebagai pesawat tempur siluman yang bisa melaksanakan berbagai macam misi (multirole stealth fighter). Sistem propulsinya adalah dua mesin jet General Electric F414-GE-400 (2 x 97,9 kN)/ F414 EPE. Rencananya pesawat ini akan dilengkapi radar AESA buatan Korsel, IRST, datalink, dan memiliki kemampuan jelajah yang tinggi (supercruise). Dua disain pesawat sedang dianalisis, yakni KFX/IFX-201 (dengan canards) dan KFX/IFX-101 (konvensional).

Saat diproduksi di tahun 2020, untuk pembuatan struktur pesawat KFX/IFX direncanakan dibuat di PTDI, Bandung. Sementara proses pemasangan peralatan elektronik pesawat, khusus KFX dilakukan di Korea Selatan. Sementara IFX tetap diproduksi di Indonesia. Keinginan pihak PTDI, produksi struktur pesawat KFX/IFX dilakukan di PTDI, baik struktur untuk IFX Indonesia maupun KFX Korea. Sedangkan perlengkapan elektronikanya dirakit di Korea.

Program KFX/IFX Harus Terus Didukung

Persoalan yang masih mengganjal proyek KFX/IFX ini adalah penyediaan anggaran, yang memang butuh dana sangat besar. Ketua Parlemen Korsel Ahn Hong-joon pada Mei 2013 mengungkapkan, pemerintah Korsel kesulitan mencari dana untuk proyek mahal tersebut. Namun Hong-joon meyakinkan, proyek KFX/IFX tak akan terhenti.

Direktur Teknologi dan Pengembangan PTDI, Andi Alisjahbana, pada Agustus 2013 menjelaskan, pihak Korea terpaksa menunda pembangunan proyek tersebut karena harus menunggu keputusan dari pemerintah yang baru. Setidaknya dibutuhkan 8 miliar dollar AS atau setara Rp 78,4 triliun untuk menghasilkan prototipe jet tempur KFX/IFX, yang tersertifikasi dan siap produksi.

Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Pertahanan sudah mengalokasikan anggaran 1,8 miliar dollar AS atau senilai Rp 15,68 triliun. Alokasi ini setara 20 persen dari keseluruhan biaya pengembangan jet tempur KFX/IFX. Sementara 80 persen atau setara 6,2 miliar dollar AS untuk biaya pengembangan ditanggung oleh Korea Selatan. 

Di luar aspek anggaran, pengamat militer dan dosen Hubungan Internasional UI, Andi Widjajanto, mengkhawatirkan, yang terjadi sesungguhnya lebih serius karena menyangkut kontrak alih teknologi. Indonesia sebagai negara bebas-aktif tidak menganut blok pertahanan, karena itu upaya alih teknologi menjadi lebih sulit. Berbeda dengan Korsel yang jelas adalah sekutu dekat AS di kawasan Asia-Pasifik. 

Dalam kasus KFX/IFX, Indonesia awalnya berharap bisa belajar teknologi pesawat tempur F-16, yang lisensinya sudah dilimpahkan AS kepada Korsel. Belakangan, Korsel tergiur ingin mengembangkan KFX dengan teknologi pesawat F-35, yang lisensinya belum tentu boleh dibagi dengan Indonesia. Hal ini karena tidak ada pelibatan Indonesia sama sekali dalam konsorsium persenjataan global dengan AS.

Apapun hambatannya, jika proyek ini berhasil, KFX/IFX akan menjadi pesawat jet tempur pertama yang dibuat Indonesia. Dalam proyek tersebut, Indonesia mendapat porsi pengarapan pesawat hingga 20 persen. Pesawat KFX/IFX nantinya akan diproduksi sebanyak 250 unit, dan Indonesia mendapat bagian 50 unit. Satu unit pesawat tempur ini nantinya dihargai sekitar 70-80 juta dollar AS.

Wakil Menteri Pertahanan Letjen TNI (Purn) Sjafrie Sjamsoeddin wanti-wanti menekankan pentingnya keberlanjutan produksi jet tempur KFX/IFX, siapapun yang terpilih menjadi Presiden RI pada Pemilu 2014. Ini adalah program nasional demi kepentingan bangsa dan negara. “Kita harus mewujudkannya demi kemandirian bangsa membangun kekuatan pertahanannya,” kata Sjafrie. 

Pernyataan Sjafrie ditanggapi oleh TB Hasanuddin, Wakil Ketua Komisi I Bidang Pertahanan, Intelijen, Luar Negeri & Komunikasi DPR-RI. Hasanuddin menegaskan, “Siapa pun kekuatan politik (yang akan memimpin Indonesia) di masa depan, tetap harus mendukung program ini agar terus berjalan.” Rombongan Komisi I DPR-RI telah meninjau kesiapan fasilitas PTDI untuk menggarap proyek itu pada 13 Juni 2013.

Ada beberapa pihak yang meragukan kemampuan Korsel dan Indonesia dalam membuat pesawat tempur siluman. Hal ini karena teknologi inti masih belum dikuasai, seperti: avionik, mesin, data fusion, dan material komposit. Rekam jejak beberapa negara di luar AS dan Rusia yang coba mengembangkan pesawat tempur sendiri –seperti China, Israel, dan Perancis-- memang berat. Namun proyek jet tempur KFX/IFX diharapkan akan memberi banyak dampak positif bagi Indonesia, bahkan bisa memberi efek tidak terduga, seperti temuan-temuan baru.

Dalam kaitan itu, PTDI telah membuat unit kerja bayangan program KFX/IFX di Bandung. Unit bayangan ini menyalin semua aktifitas KFX-IFX yang dikerjakan para ahli KAI dan PTDI di Korsel. Hal ini untuk pelajaran bagi insinyur Indonesia lainnya, maupun mengantisipasi jika proyek KFX di Korsel terhenti. 

Melalui proyek KFX/IFX, Indonesia akan belajar membuat sistem senjata, sensor dan elektronik, radar, dan sebagainya untuk memenuhi kebutuhan IFX yang dibangun. Para teknisi, insinyur, ahli penerbangan, dan militer Indonesia akan mempelajari sistem terbaik untuk dipasang di pesawat tempur tersebut. Kesempatan melakukan “praktik lapangan” dengan medium IFX ini sangat langka dan mahal, tapi krusial bagi kemajuan industri pertahanan Indonesia. 

Satrio Arismunandar
Blog : http://satrioarismunandar6.blogspot.com


Tidak ada komentar:

Posting Komentar