Ketika Pemimpin Memperoleh Kemenangan



JELANG Pemilu 2014, konstelasi politik makin memanas. Berbagai jurus dipakai. Yang muaranya bagaimana mendapat kemenangan. 

Jamak dalam sebuah pertandingan, menang dan kalah, pasti terjadi. Berpijak dari realita tersebut, melalui tulisan ini, penulis ingin menyampaikan bagaimana selayaknya seorang pemimpin bersikap tatkala kemenangan berhasil diraihnya.

***

Sejarah telah mencatat begitu banyak kemenangan dan kesuksesan yang diraih oleh Nabi Muhammad. Namun dalam tulisan ini, penulis hanya ingin menyebutkan dua kemenangan yang pernah dialami oleh sang Nabi.

Pertama, kemenangan atas Da’tsur, seorang ksatria dari pasukan Quraisy Makkah. Peristiwa ini bermula, tatkala Nabi sedang tidur di bawah sebuah pohon. Dalam keadaan tertidur lelap, Da’tsur datang menghampiri sang Nabi. Dan ketika Nabi bangun, seketika Da’tsur dengan pedang terhunus dan siap untuk membunuh sang Nabi. Kemudian ia berkata “Wahai Muhammad, siapa yang menghalangiku untuk membunuhmu?”. Kemudian sang Nabi dengan penuh keyakinan menyatakan, “Allahlah yang akan menjadi pelindungku dan penghalang terhadap keinginanmu untuk membunuhku.” Maka serta merta, tangan Da’tsur gemetar dan tidak mampu menahan ayunan pedangnya. Seketika jatuhlah perdang tersebut dan Da’tsur tidak berdaya sama sekali.

Setelah terjatuh, pedang kemudian diambil oleh Muhammad. Keadaanpun menjadi berbalik. Muhammad balik mengancam Da’tsur dengan pedang terhunus disertai pertanyaan yang sama. Siapakah yang bisa menghalangi diriku dari pedang terhunus ini?. Dengan dipenuhi perasaan ketakutan, Da’tsur menjawab dengan penuh kepasrahan bahwa hanya engkau Muhammad yang bisa menyelamatkanku. Diriku tidak punya pembela siapa-siapa, kecuali engkau. Dan sang Nabipun kemudian menyatakan bahwa engkau selamat. Aku tidak akan pernah melakukan tindak kekejaman, apalagi sampai membunuhmu.

Muhammad adalah sosok yang senantiasa mengemban misi dakwah. Memanfaatkan setiap kesempatan, sekecil apapun apalagi sebesar yang terjadi di antara dirinya dengan Da’tsur. Sang Nabi selalu tampil sebagai seorang yang mulia dan lembut serta penuh kasih sayang.

Kedua, kemenangan selanjutnya adalah tatkala beliau dan para sahabatnya mampu mentaklukkan Kota Makkah dari tangan penguasa Quraisy. Pada saat itu, kota kelahirannya dikuasai oleh Abu Sofyan, seorang dari keturunan Bani Umayyah, rival utama keluarga Muhammad, Bani Hasyim.

Keberhasilan tersebut dicapai tanpa melalui perlawanan yang berarti dari pihak penguasa. Pada saat kekalahan itu, warga dan penguasa Makkah menanti-nanti tindakan apa gerangan yang akan dilakukan oleh sang Nabi dan para pengikutnya.

Mereka teringat kembali akan kebengisan dan perlakuan kasarnya terhadap Nabi, bahkan memaksanya harus hijrah ke Yastrib (Madinah). Para elite Quraisy dan warga Makkah sudah siap menerima tindakan pembalasan apapun setimpal dengan kekejaman yang pernah dilakukannya kepada diri Nabi. Namun apa yang terjadi, bayangan menakutkan dan sudah terbayang di hadapan mereka, sungguh di luar perkiraan. Sang Nabi malahan memberikan kepada mereka sebuah jaminan keselamatan. Nabi mengeluarkan statemen yang sangat terkenal: Bagi yang mau selamat, silakan masuk masjid Makkah. Setelah sesak dan masih banyak yang tidak tertampung, Nabi lalu meminta untuk dapat memakai rumah Abu Sofyan. Namun masih belum muat juga. Nabi akhirnya menyerukan bahwa yang mau selamat silakan memasuki rumah masing-masing.

Alangkah luhur dan damai hati sang pemimpin agung ini. Kekejaman dan penganiayaan yang dialaminya, dibalas dengan kecintaan dan kasih sayang. Beliau adalah seorang yang berhati selembut salju. Tatkala sebuah kemenangan diraih, beliau tidak melonjak-lonjak kegirangan sehingga lupa bahwa kemenangan itu hanyalah salah satu sisi kehidupan sebab masih ada sisi lain dari sebuah uang logam. Dalam hal ini, masih ada pula kebalikannya, yakni kegagalan dan kekalahan.

***

Pertanyaan yang perlu dihadirkan adalah bagaimana dengan perilaku umatnya tatkala mengalami sebuah kemenangan?. Mengamalkan apa yang dipraktekkan oleh Nabi bukanlah hal mudah. Malahan tidak sedikit di antara mereka, justru makin memperbesar kemarahan dan keangkuhan melalui kemenangannya. Umatnya memandang penantang dan kompetitornya sebagai musuh yang memang harus dikalahkan, kalau perlu dihancurleburkan. Karena dipandang sebagai musuh, maka ia dipandang kalau tidak dibunuh, maka ia akan membunuhnya. Ia berusaha menghancurkan musuhnya sebagai sebuah tindakan keselamatannya ke depan, minimal dilumpuhkan kekuatannya.

Apa yang sering terjadi pada diri umat Muhammad amatlah tidak sejalan dengan praktik Nabi tersebut. Soalnya, sejak awal Nabi tidak pernah memandang penantang dan kompetitornya sebagai musuh, tapi sebagai kawan yang belum berada dalam habitatnya. Mereka yang belum berada di lingkungan Nabi masih tetap dipandang sebagai kawan yang belum memiliki kesempurnaan kesadaran, pengetahuannya masih kurang, keyakinannya masih butuh dukungan.

Gaya kemenangan Nabi yang diliputi pertemanan dan persaudaraan ini memang amat dibutuhkan dalam perjalanan kehidupan pribadi atau kolektif. Sikap damai dan kasih, sunyi dari benci dan dendam Nabi ini tidak pernah memperpanjang konflik, tapi segera memecah persaingan menjadi perdamaian dan rekonsiliasi. Pihak yang kalah segera dapat melupakan kekalahannya karena segera dengan mudah mengidentifikasi dan meleburkan dirinya dalam kelompok Nabi, sang pemenang. Rekonsiliasi tidak memerlukan tenggang waktu yang lama sehingga tidak diperlukan lagi pembentukan tim kerja atau panitia khusus. Rekonsiliasi bersifat segera sehingga tidak ada waktu yang terbuang percuma untuk ritual dan upacara rekonsiliasi.

Boleh jadi, para pemenang patut pula mempertimbangkan akhlak, pola, tingkah, dan cara kemenangan Nabi Muhammad. Hal ini memiliki tingkat kepatutan tinggi, apalagi buat mereka yang masih saja setia hingga akhir tetap bersama Muhammad dalam keyakinan dan keislaman.

Bukankah Nabi sebagai idola dan teladan yang paling terdepan bagi umatnya. Ini tidak berarti bahwa umatnya tidak boleh mengidolakan sesamanya sebagai wujud kecintaan kepada saudaranya sekaligus hablun minan-nas.

Ternyata, keteladanan kepada Nabi Muhammad saw. tetap saja relevan untuk diamalkan oleh umatnya hingga kini terlebih dalam momentum politik kali ini yang biasanya senantiasa diwarnai dengan semangat yang demikian menggebu untuk saling berlomba meraih kemenangan. Sehingga tak jarang memakai berbagai macam cara termasuk black campaign bahkan kadang cenderung memfitnah. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar